Pemerintah Kabupaten Ngada melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang dihadiri oleh Kepala Bidang Kebudayaan Paschalia Moi menyatakan dukungan secara penuh terhadap berbagai upaya masyarakat dalam melestarikan budaya setempat.Melalui visi Pemda Ngada yakni Ngada Mandiri, Berbudaya, Maju dan berkelanjutan, Bupati dan Wakil Bupati Ngada secara nyata telah memfasilitasi pemajuan kebudayaan melalui dukungan anggaran bagi tiga etnis Ngadhu Bhaga, Soa dan Riung.

Hal ini disampaikan pada kegiatan Dialog Budaya yang digelar dalam rangkaian pelaksanaan ritual “Ghae Wunu kazu Aze” di Kampung Ramba Desa Turaloa timur Kecamatan Wolomeze tanggan 27-28 Mei 2026. Dialog budaya ini dihadiri para tokoh adat dan masyarakat, Penjabat Kades Turaloa timur Bernadinus Roe, Ketua LPA Ramba Antonius Garo, Ketua Komunitas masyarakat adat Ramba Ignasius Loyola Meo. Hadir juga dari kalangan akademisi sekaligus yang mlakukan kajian tertulis terntang ritual Ghae Wunu Kazu Aze Doktor John Sayangan dan Ermelinda Yosefa,M.pd.

Menurut Kabid kebudayaan Asri Moi bahwa fokus pemerintah daerah saat ini terhadap setiap kerja kebudayaan adalah pada aspek Dokumentasi, Perlindungan dan Pelestarian, Riset dan Penguatan Kapasitas. Aksi nyata yang telah banyak dilakukan Bidang Kebudayaan terhadap setiap aktifitas kebudayaan yang dipandang penting untuk terus hidup akan dikelola secara baik oleh Pemda Ngada seperti pembuatan Kajian melalui tulisan dan buku, Dokumenter yang akan merekam semua aktifitas budaya sebagai bukti visual bagi generasi mendatang . Muaranya adalah Pemda Ngada melalui Bidang Kebudayaan akan memperjuangkan berbagai tahapan untuk sampai pada penetapan Warisan Budaya Tak Benda oeh Negara sebagai aspek perlindungan nasional.Contoh budaya yang telah melewati semua prose dan masuk hingga WBTB adalah Ja’i, Sagi dan Tu Nawu Ndoka Laeng dari suku Mulu.Asri Moi menyatakan hal yang sama juga akan dikerjakan bagi ritual Ghae Wunu Kazu Aze.

Sementara itu, suara meminta dukungan Pemda Ngada juga datang dari Ketua LPA Ramba Antonius Garo yang berharap Komunitas masyarakat Ramba berjumlah 47 keluarga ini dapat difasilitasi dan didukung untuk meneruskan tradisi budaya mereka. Dukungan itu juga terkait denga upaya pelestarian lingkungan dan alam sekitar yang jadi habitat tumbuhnya tanaman obat-obatan. Ketua Komunitas Budaya Adat Ramba Ignatius Loyola Meo juga menyatakan harapannya agar eksistensi masyarakat adat Ramba tetap terjaga butuh dukungan dari semua pihak terutama Pemda Ngada dan pemerintah Desa dalam hal pembuatan komitmen bersama agar tradisi dan Budaya Ramba tetap lestari dan Alam Ramba tetap terjaga.

Ghae Wunu Kaju Aze merupakan nama ritus pengobatan tradisional dari 8 (delapan) suku yang ada di Ramba. Ritual dan tradisi Ghae Wunu Kaju Azi sudah dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang. Jenis obat-obatan yang diambil dari tumbuhan alam berupa pohon kayu (kulit), daun, akar yang digunakan untuk pengobatan, penyembuhan masal masyarakat adat melalui sebuah ritual adaat yang sakral. Ini adalah pernyataan tentang Ketahanan Masyarakat Adat. Dengan mencari di alam, masyarakat menegaskan bahwa mereka memiliki kemandirian hidup. Alam adalah apotek semesta yang harus dijaga kelestariannya agar generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap “penyembuhan” tersebut.

0 Komentar