Workshop tenun ikat, yang masuk dalam rangkaian kegiatan Festival Inerie, resmi dibuka oleh Bupati Ngada, melalui asisten perekonomian dan Pembangunan Setda Ngada, Hironimus Reba Watu, di hotel Edelweis Bajawa. Workshop tenun ikat digelar sejak tanggal 02-06 Juli 2019.

Dalam laporan panitia penyelenggara oleh Sjamsul Hadi, SH. MM mewakili Direktorat Jenderal Kebudayaan menyampaikan bahwa, Kabupaten Ngada patut berbangga karena Workshop yang diselenggarakan oleh Dirjen Kebudayaan, baru dua kali digelar, dimana pada tahun 2018, kegiatan ini diadakan di Provinsi NTB, dan pada tahun 2019 Kabupaten Ngada menjadi tuan rumah mewakili Provinsi NTT.

Asisten perekonomian dan Pembangunan Setda Ngada, saat menyampaikan sambutan mewakili Bupati Ngada.

Kegiatan Workshop ini juga melibatkan 90 peserta dari 9 komunitas tenun yang ada di Kabupaten Ngada. Dirjen Kebudayaan sangat berharap workshop tenun ikat berikutnya, akan diselenggarakan lagi di Kabupaten Ngada, tetapi tidak bertempat di hotel, namun di rumah-rumah masyarakat yang merupakan anggota komunitas tenun di Kabupaten Ngada juga.

Foto bersama perwakilan peserta Workshop dari kelompok tenun Gurusina dan Tololela.

Asisten perekonomian Setda Ngada, Hironimus Reba Watu, dalam sambutan mewakili Bupati Ngada pada pembukaan kegiatan workshop menyampaikan bahwa, ada 2 etnis tenun yang sangat menonjol di Kabupaten Ngada yaitu etnis Riung dan Etnis Bajawa. Sedangkan etnis So’a memiliki motif yang hampir serupa dengan Bajawa. Tetapi 3 etnis tersebut tetap menunjukkan kekhasannya sendiri.

Bahan-bahan pewarna alami yang disiapkan untuk kegiatan workshop tenun ikat.

Hironimus Reba Watu juga menambahkan, tenun ikat yang sudah di wariskan oleh leluhur bersifat turun-temurun, sehingga tidak dapat diubah baik dari segi pewarnaan, dari segi tampilan kain dan juga proses pewarnaan. Selain itu ia mengharapkan setelah kegiatan workshop ini, tampilan-tampilan motif tenun adat Kabupaten Ngada bisa lebih baik dari hari kemarin tanpa merubah ciri khas yang sudah diwariskan.

Dalam acara pembukaan workshop tenun ikat yang juga di hadiri Bupati Ngada, Drs Paulus Soliwoa juga menyampaikan beberapa hal antara lain, masyarakat Kabupaten Ngada sangat minim soal kreativitas, oleh karena itu wadah yang sangat cocok untuk bisa menambah kreativitas adalah terbentuknya kelompok-kelompok tenun. Di samping itu, Paulus Soliwoa juga menambahkan bahwa mengetahui apa yang dibutuhkan dalam pasaran khususnya tenun ikat, harus dipahami dengan baik. Mengingat banyak pecinta tenun ikat dari mancanegara yang sangat menginginkan tenun ikat dari hasil pewarnaan alami.

Paulus Soliwoa menegaskan, pemerintah siap mendukung dari aspek permodalan dan publikasi pemasaran, untuk itu Bupati Soliwoa berharap kelompok tenun yang mengikuti kegiatan workshop selama 5 hari ini, dapat mengikuti kegiatan dengan baik sehingga berbagai macam pengetahuan yang diperolah dapat di relealisasikan dalam meningkatkan kualitas tenun di Kabupaten Ngada.

Dalam kegiatan workshop selama 5 hari ini, narasumber yang di hadirkan antara lain dari komunitas warlami dari Bastari kain tradisional, yang difokuskan pada pewarnaan alami dan pemanfaatan benang sisa dan juga Ratna Panggabean.

Dalam hari pertama kegiatan workshop tenun ikat materi yang diberikan antara lain, penjelasan teknis peningkatan kompetensi pelestari kain tradisional sekaligus pembagian kelompok, filosofi dan makna kain tradisional Ngada serta penjelasan umum tentang pewarnaan alami pada benang bahan tenun.

Categories: Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada