Pembukaan persidangan Klasis Flores III diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Hendrik. F. Kudji Rihi, S. Th di Gereja Ebenhezer Bajawa.

Persidangan Klasis Flores III Tahun 2019 adalah forum empat tahun dan sebagai wadah pengambilan keputusan jemaat-jemaat GMIT dalam wilayah Klasis Flores yang meliputi jemaat-jemaat dalam wilayah daratan Flores Dan Lembata. Persidangan Klasis Flores III tahun 2019 memiliki tujuan tersendiri diantaranya, mengevaluasi proses pelayanan lingkup klasis dalam satu periode, menilai dan menerima atau menolak laporan pertanggungjawaban Majelis Klasis, merumuskan dan menetapkan pokok-pokok program pelayanan kebersamaan satu periods sesuai Haluan Kebijaksanaan Umum Pelayanan GMIT, membentuk Badan Pembantu Pelayanan Klasis dan merekomendasikan kepada Majelis Klasis untuk membentuk struktur Badan Pembantu Pelayanan Klasis serta mengangkat anggota yang hitsnya, memilih Majelis Klasis 2020-2023, dan melaksanakan penjaringan bakal calon anggota Majelis sinode untuk disampaikan kepada PanMil Anggota Majelis Sinode.

Foto bersama Sekda Ngada, Dandim 1625 Ngada, Waka Polres dan Peserta sidang Klasis III.

Dalam sambutan panitia sidang klasis Flores III yang disampaikan oleh Theos Lao menyampaikan bahwa sebelumnya,sidang klasis Flores II digelar di Labuan Bajo tahun 2015. Untuk sidang klasis Flores III sendiri, peserta sidang adalah anggota majelis Klasis 18 orang, BP3K 3 orang, panitia pembangunan 1 orang, BP4K 1 orang, TPKK 1 orang, UPP PAR, pemuda, perempuan GMIT, PD 8 orang, Pendeta yang bukan Majelis 11 orang, sedangkan untuk perutusan jemaat-jemaat diantaranya, jemaat Solafide Lembata 3 orang, jemaat Ebenhaezer Larantuka 3 orang, jemaat Efata Geliting 3 orang, jemaat Sion Nangahure 3 orang, jemaat Kalvari Maumere 3 orang, jemaat Syalom Ende 3 orang, jemaat Ebenhaezer Mbay 3 orang, jemaat Ebenhaezer Bajawa 3 orang, jemaat Getsemani Aimere 3 orang, jemaat Ebenhaezer Borong 3 orang, jemaat Imanuel Ruteng 3 orang, jemaat Ephata Reo 3 orang, jemaat Gunung Salmon Labuan Bajo 3 orang, untuk undangan lainnya, panitia pemilihan Majelis Klasis 3 orang, Yapenkris 1 orang, Majelis Sinode 4 orang, Vikaris 2 orang, calon Majelis Klasis 10 orang, T. U Klasis 2 orang, sopir 4 orang dan jumlah secara keseluruhan 107 orang sedangkan jumlah kehadiran peserta 79 orang.

Biaya sidang klasis diperoleh dari sumbangan pemerintah 200 juta,sumbangan dari Bank NTT 50 juta,kontribusi peserta sidang 62 juta,sumbangan panitia dan jemaat Ebenhaezer 48 juta, total biaya kegaiatan 360 juta. hal ini merujuk kepada pepatah leluhur Ngada “su’u wi papa suruh, sa’a wi papa laka yang dimaksudkan saling membantu dan menolong dalam kegiatan. Kegiatan pembukaan diwarnai dengan tari Bali dari komunitas Hindu-Bali di Bajawa.

Penyematan tanda Peserta oleh Sekda Ngada.

Dalam sambutan sebagai tuan rumah dan mewakili masyarakat Ngada,Sekda Ngada Theodosius Yosefus Nono menyampaikan ucapkan selamat datang kepada seluruh peserta sidang klasis 2019 dan pernyataan terima kasih atas kepercayaan bagi kabupaten Ngada sebagai tuan rumah sidang klasis flores III. Menurutnya, butuh komitmen seluruh pemeluk agama dan pemerintah serta masyarakat untuk bermitra dalam pembangunan dan ia berharap semoga sidang ini memberi dukungan konstruktif bagi pemerintah dan masyarakat di Flores. Selain itu diharapkan juga perlu ada pembahasanan,pluralitas agama suku budaya dan sidang ini perlu bicara strategi untuk membangun toleransi. Saat ini kondisi kehidupan beragama di Flores memang kondusif, tapi arus komunikasi dan globalisasi yang pesat berkembang, dapat menjadi ancaman. Sidang ini perlu membahas bagaimana cara pencegahannya. Peserta sidang klasis juga diminta untuk menyumbangkan pikiran, tentang cara strategis untuk masyarakat, agar keluar dari lingkungan kemiskinan dan persoalan kesejahtraan lainnya.

Para penari dari komunitas Hindu-Bali yang ada di Bajawa.

Hal lain yang diharapkan dari pemerintah melalui Sekda Ngada adalah Majelis Sidang Klasis dalam sidangnya, mencari upaya pemecahan masalah moral yang merebak di tengah masyarakat seperti KKN, Tindakan kekerasan perempuan dan anak, mewaspadai gejala aliran sesat, terorisme dan radikalisme. Selain itu, sidang klasis kali ini dapat sumbangkan ide dan gagasan atas persoalan yang dihadapi pemerintah dan masy Ngada. Harapan selanjutnya agar seluruh proses persidangan dapat berjalan aman dan lancar.

Paduan suara Eukumene, saat pembukaan sidang Klasis III.

Marlintye Ay Touselak, S. Th selaku wakil Sekertaris Sinode GMIT dalam sambutan, menyampaikan bahwa satu periode pelayanan telah berjalan,dalam satu tujuan bersama mensejahterakan umat dan masyarakat titipan Tuhan. Pengalaman membanggakan di Bajawa karna disambut hangat oleh pemerintah dan masyarakat,acara makan adat bersama. Bangga melihat kehidupan yang harmonis dan toleransi di Ngada. Toleransi ini dibangun dan di wujudkan oleh semua lintas agama, dari pendanaan, panitia, pelayanan ibadat, paduan suara gereja dan pertunjukan seni dari berbagai elemen agama. Sidang klasis ini tidak hanya membahas dan mengevaluasi perjalanan kelembagaan ini, namun juga evaluasi relasi antara manusia dengan Alam dan Sesama. Evaluasi perjalanan selama 4 tahun, ada keberhasilan dan kegagalan. Akan ada dinamika, kritik untuk kemajuan adalah hal yang positif untuk terpanggil melayani Gereja Masehi injili Timor sebagai gereja visioner.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada