WOLOMEZE – Tim Penggerak PKK Kecamatan Wolomeze menggelar Jambore PKK yang dibuka secara resmi oleh Camat Wolomeze Kasmin Belo, Rabu (14/08/3019) di Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze. Jambore PKK yang digelar, bersamaan dengan kegiatan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-74 ini, dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK kabupaten Ngada, Ny. Kurniaty Soliwoa.

Pada kesempatan itu, Ny. Kurniaty Soliwoa memberi apresiasi atas kerja-kerja PKK Kecamatan Wolomeze, salah satunya melalui kegiatan Jambore PKK yang merupakan program rutin PKK untuk mengimplementasikan 10 program PKK. Kegiatan ini secara khusus mengangkat tema “Memerangi Stunting dengan Mengonsumsi Pangan Lokal.” Isu yang belakangan menjadi perhatian pemerintah pusat hingga daerah.

Jambore PKK di Kecamatan Wolomeze yang terpusat di Kurubhoko, Desa Ngginamanu ditandai dengan pameran pangan lokal. Para ibu PKK dari masing-masing desa membuka stan pameran dan menyajikan menu dari pangan lokal, sebagai sinyal dalam menjawabi program pemerintah guna memerangi stunting.

Usai pembukaan kegiatan Jambore yang juga diisi dengan sosialisasi Pola pengasuhan dan dampak kekerasan terhadap anak, Ny. Kurniaty Soliwoa langsung meninjau berbagai stand yang menyajikan kuliner berbahan pangan lokal.

Usai Pembukaan Jambore PKK Tingkat Kecamatan Wolomeze, Ny. Kurniati Soliwoa Bersama Camat Wolomeze

Melalui lomba kuliner berbasis pangan lokal ini, diharapkan para ibu mengetahui manfaat pangan lokal dan kandungannya, sehingga dapat mencegah munculnya kasus stunting. Para ibu memahami bahwa pangan lokal mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan dalam pertumbuhan anak sejak dini. Jadi tidak harus mahal, tetapi dapat ditanam di kebun sendiri dan mudah didapat.

Usai meninjau stand pameran, Ny. Kurniaty Soliwoa mengatakan Jambore ini merupakan kegiatan rutin PKK , sehingga melalui kegiatan ini diharapkan dapat mengimplementasikan 10 program pokok PKK. Melalui kegiatan pameran pangan lokal dan lomba kuliner dapat mendorong keluarga-keluarga dalam mencegah stunting, sehingga kemudian terwujud generasi Indonesia yang unggul.

Tinjau Stand Kuliner Pangan Lokal Di Stand Desa Nginamanu Selatan

Selama ini, kata Ny. Kurniaty ketergantungan masyarakat pada beras sangat tinggi, padahal pangan lokal yang ada di setiap keluarga memiliki kandungan gisi yang baik untuk pertumbuhan. “Kita mendorong agar masyarakat memanfaatkan pekarangan dengan tanam pangan lokal. Untuk pemenuhan gisi tidak harus beras, karena kandungan dalam pangan lokal terpenuhi,” papar Ny. Kurniaty.

Pada kesempatan itu, Ny. Kurniaty Soliwoa juga memberi apresiasi kepada TP PKK Kecamatan Wolomese yang terus berkreasi melalui kegiatan seperti ini untuk terus membangun keluarga sejahtera melalui PKK. “Saya harap kreativitas dan inovasi yang sudah ada ini tidak redup sehingga peran PKK dapat terwujud dalam keluarga mencapai kesejahteraan.

Tinjau Stand Pameran Pangan Lokal Desa Denatana Timur

Sementara Ketua TP PKK Kecamatan Wolomeze, Ny. Nurhayat S. Belo mengatakan momen jambore tidak sekedar rutinitas. Tetapi jadikan ajang ini ruang kreasi dan inovasi dalam mengimplementasikan 10 program PKK. “Ini memang program rutin PKK. Hanya saja, jangan lihat sebagai rutinitas saja, tetapi ajang silaturahmi, menjalin persatuan dan saling membagi pengalaman untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga. Kegiatan ini juga sekaligus persiapan sebelum jambore PKK tingkat kabupaten,” jelas Nurhayat.

Dikatakannya, dalam Jambore ini kita menggelar pameran pangan lokal guna menjawabi HATINYA PKK (Halaman, Arsi, Teratur, Indah, Nyaman) dan mengimplementaasikan 10 program pokok PKK dalam kehidupan sehari-hari. Momen ini juga diisi dengan lomba kuliner pangan lokal dan lomba stan pameran pangan lokal yang diikuti desa-desa di Kecamatan Wolomeze.

Menurut Nurhayat, pangan lokal dijadikan sebagai salah satu cara dalam mencegah stunting yang kini jadi perhatian pemerintah. Mengapa pangan lokal? Karena mudah diperoleh dan masih dibudidaya masyarakat. Pangan lokal, kata dia, selama ini dipandang sebelah mata karena masyarakat masih menomorsatukan beras, padahal pangan lokal memiliki kandungan gisi yang tinggi untuk pemenuhan kebutuhan dan pertumbuhan anak.

“Kami harap pemanfaatan pangan lokal menjadi suguhan sehari-hari dalam keluarga. Tentu saja perlu dibekali dengan kreativitas dan inovasi sehingga konsumsi pangan lokal tidak bosan dengan penyajian yang itu-itu juga,” tegas Nurhayat.

Tinjau Stand Pangan Lokal Desa Mainai

Masalah pangan lokal bukan soal budidaya, karena memang masih terpelihara di kebun masyarakat. Hanya saja belum dijadikan sebagai suguhan utama dalam keluarga untuk pemenuhan gisi. “Jadi kalau saya lihat bukan soal ada atau tidak. Karena semua jenis pangan lokal masih ditanam masyarakat. Hanya soal pemahaman bahwa sebenarnya pangan lokal kaya kandungan gisinya,” papar Nurhayat.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada