Dalam upaya memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat Ngada, khususnya jalur Perguruan Tinggi, Yayasan Persekolah Katholik Ngada ( YASUKDA Ngada ), dengan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Ngada, terpanggil untuk ikut berpartisipasi dengan mendirikan Institut Pertanian Flores Bajawa di Ngada ( IPFB )

IPFB yang didirikan nanti, berbentuk Institut yang menyelenggarakan jenis pendidikan akademik dan pendidikan vokasi atau profesi program sarjana, dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan pertanian dalam arti luas dan pariwisata, yang pada fakultas dan program studi perguruan tinggi tersebut bernama Institut  Pertanian Flores Bajawa disingkat IPFB yang dalam bahasa Inggris “Bajawa Flores Agriculture Institute.

Sebanyak 4 orang dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah VIII Denpasar, Kamis (24/10) mendatangi Kabupaten Ngada. Kehadiran 4 orang masing-masing Agus Fredy Maradona selaku Rektor, I Gede Githa Dharma Husada sebagai Kasubag Kelembagaan, Luh Gd. Teni Waisnawini jabatan Analis Kelembagaan dan Ni Gusti Ayu Ketut Geminiati selaku Pengadminstrasi dokumen kelembagaan.

Penjemputan dan Pengalungan Tim Vistasi L2Dikti, oleh Ketua Yasukda Ngada, Romo Sil Betu

Kehadiran keempatnya di Kabupaten Ngada guna menilai usulan Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada (Yasukda), berkaitan dengan akan dibangunnya Institut Pertanian Flores Bajawa ( IPFB) sebuah Perguruan Tinggi di Kota Bajawa.

Turut hadir menjemput Rombongan L2DIKTI tersebut Sekda Ngada Theodosius Yosefus Nono, Ketua DPRD Kabupaten Ngada Bernadinus Dhey Ngebu,Ketua Yasukda RD Silverius Betu,S Fil.M.Han ,Ketua Dewan Pengawas Yasukda Romo Beny Lalo Pr, Ketua Tim Pendiri IPFB Dr. Nicolaus Noywuli,S.Pt.,M.Si. yang saat ini juga selaku Ptl. Staf Ahli Bupati Ngada Bidang Kemasyarakatan, SDM dan Litbang.

Kegiatan Visitasi L2Dikti Wilayah VIII dalam rangkaian untuk rencana pembangunan IPFB, dilakukan dengan penilaian dokumen di Kantor Yasukda ,Jalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Tanalodu, Kecamatan Bajawa.

Rapat Koordinasi Bersama L2DIKTI, Sekda Ngada, Ketua DPRD Ngada dan Tim Yasukda Ngada

Sekretaris Daerah Kabupaten Ngada Theodosius Yosefus Nono dalam sambutan singkatnya mengatakan, Institut Pertanian Flores Bajawa kehadirannya sangat didukung Pemerintah Kabupaten Ngada sejalan potensi pertanian juga didukung dengan potensi  lainnya maka kehadirannya menjadi sebuah tuntutan dan sekaligus juga menjawab kebutuhan.

Kehadiran IPFB menurutnya, untuk bisa juga menjawab tuntutan atau salah satu bentuk dukungan program penting Presiden Jokowi, terkait pengembangan Sumber Daya Manusia.

Dikatakan pula bahwa Pemerintah memberikan dukungan juga, setelah Kampus Undana II di Bajawa secara aturan tidak bisa dijalankan lagi, sementara Pemerintah telah menyiapkan aset tanah dan gedung untuk aktivitas perkuliahan. Dengan akan dibangunnya IPFB maka aset yang ada berupa tanah dan gedung, dapat digunakan pula untuk IPFB.

“Pemerintah akan berkoordinasi dengan DPRD dapat melakukan hibah atau pinjam pakai untuk IPFB. Kehadiran kampus ini merupakan kerinduan masyarakat,”katanya.

Ketua DPRD Kabupaten Ngada Bernadinus Dhey Ngebu pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa DPRD Kabupaten Ngada memberikan apresiasi kepada Yasukda yang bersedia membangun Perguruan Tinggi di Kabupaten Ngada.

Berny Dhey  yang juga Tim Pendiri IPFB tersebut mengatakan pihaknya juga berharap L2Dikti setelah penilaian, dapat mengeluarkan Rekomendasi pendirian Kampus IPFB. DPRD Kabupaten Ngada katanya pada tahun 2020 akan pula membahas pengalokasian anggaran untuk mendukung IPFB.Ketua Yasukda RD Silverius Betu,S Fil.M.Han dalam penjelasannya mengatakan atas nama seluruh pengurus Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada dan Panitia Pendirian IPFB menyampaikan terima kasih kepada tim L2Dikti Wilayah VIII yang lakukan penilaian terhadap pendirian IPFB.

Romo Sil pada kesempatan tersebut memaparkan tentang Yasukda dimana dikatakan bahwa Yasukda sudah ada sejak jaman Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1911 dengan nama Schoolvecening Flores atau Persekolahan Flores sebagai lembaga berbadan hukum yang menyatu dengan lembaga Gereja Katolik Flores untuk menyelenggarakan Persekolahan.

Dan pada tanggal 1 Agustus 2012 mendirikan Sekolah Rakyat Katolik Bajawa yang saat ini berubah nama menjadi SDK Tanalodu. Setelah Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sesuai dengan ketentuan Pemerintah maka pada tanggal 25 Januari 1955 berubah nama menjadi Yayasan Vedapura dan selanjutnya 3 Nopember 2006 menjadi Yasukda yang menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal dalam jenjang pendidikan.

Dikatakan juga bahwa Yasukda dengan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Ngada terpanggil untuk ikut berpartisipasi dengan mendirikan IPFB.

Sementara itu, Ketua Tim Pendiri IPFB Dr. Nicolaus Noywuli,S.Pt.,M.Si.dalam laporannya mengatakan bahwa Urgensi Pendirian Institut Pertanian Flores Bajawa (IPFB), dimana pendidikan penduduk Kabupaten Ngada relatif rendah. Tercatat 50 , 28 % usia 15 tahun ke atas berpendidikan SD, tidak/belum tamat SD dan tidak/belum pernah sekolah, sedangkan pendidikan universitas hanya 9,09 %. Tingkat partisipasi penduduk usia 7-24 tahun khusus untuk tingkat perguruan tinggi tercatat yang tidak/belum pernah kuliah 0,26 % , masih kuliah 21,06 % dan tidak kuliah lagi 78,68 % (Kabupaten Ngada dalam Angka 2018). Data ini menunjukkan bahwa hampir semua lulusan SMA/SMK melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, namun yang bertahan kuliah hanya 21,06 % , sedangkan yang tidak kuliah lagi atau putus kuliah sangat tinggi yaitu 78,68 %.

Peraih gelar Doktor tamatan IPB Bogor ini mengatakan, ada banyak penyebab tingginya angka putus kuliah dan yang paling dominan adalah karena para lulusan harus melanjutkan kuliah ke luar daerah, ke luar Flores bahkan harus ke luar Provinsi NTT dengan biaya tinggi sementara kemampuan pembiayaan relatif sangat terbatas.

Perguruan tinggi di Kabupaten Ngada hanya ada satu buah STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Citra Bhakti di Malanuza, yang mendidik lulusan SMA/SMK mau menjadi guru. Dikatakan juga masyarakat Kabupaten Ngada terutama para mahasiswa yang sudah merasakan manfaat kehadiran Kampus II Undana di Bajawa, harus memendam kekecewaan. Banyak mahasiswa dari kampus II Undana Bajawa tidak meneruskan kuliahnya ke kampus induk Undana di Kupang karena kesulitan biaya. Dengan demikian, pendirian sebuah perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Ngada sebagai pengganti Kampus Undana di Bajawa menjadi kebutuhan urgen.

Menghadapi keadaan yang demikian, Yasukda terdorong untuk ikut berpartisipasi membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan adanya perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Ngada.

 Untuk itu dengan persetujuan Uskup Keuskupan Agung Ende dan dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada, Yasukda dengan pengalamannya sebagai penyelenggara persekolahan Katolik selama lebih dari satu abad, mendirikan Institut Pertanian Flores Bajawa atau disingkat IPFB.

Dikatakan bahwa IPFB dengan motto Mencari dan Melayani Dengan Kasih, merencanakan penyelenggara pendidikan akademik program sarjana dengan bidang pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan pertanian dalam arti luas, pariwisata,bangunan berkelanjutan sains dan teknologi.

Dalam kunjungan tersebut Tim L2Dikti Wilayah VIII tersebut melakukan penilaian terhadap document juga memberikan masukan terhadap proses pendirian.

Foto Bersama Tim Visitasi L2Dikti wilayah VIII Denpasar bersama Sekda Ngada Theodosius Y.Nono, Ketua DPRD Ngada Bernadinus Dhey Ngebu dan para Pendiri IPFB

Agus Fredy Maradona selaku Rektor dan I Gede Githa Dharma Husada sebagai Kasubag Kelembagaan pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa prinsipnya pihaknya akan segera mengeluarkan rekomendasi dan dari penilaian awal pihaknya berkeyakinan proses tidak lama dan rekomendasi akan segera dikeluarkan.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada