KESEPAKATAN BERSAMA TENTANG KOMODITAS UNGGULAN KOPI MELALUI POLA KLASTER

Published by Administrator on

Bajawa – Plt. Bupati Ngada, Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT dan Bank Pembangunan Daerah NTT telah melakukan kesepakatan bersama tentang komoditas unggulan kopi melalui pola klaster, yang meliputi penataan kelembagaan, peningkatan produksi dan produktifitas, perluasan akses pasar dan perluasan akses keuangan. Kdegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Februari 2019 bertempat di Cafe Gratia Bajawa. Hadir pada kesempatan tersebut, Perangkat Daerah terkait, Perwakilan dari PT. Idocom Surabaya, pelaku usaha kopi dan yang tergabung dalam Koperasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG).

Plt. Bupati Ngada dalam sambutannya, memberikan apresiasi kepada pihak perbankan dan menyampaikan beberapa hal penting yang harus diperhatikan Koperasi MPIG dalam rangka kerjasama tersebut antara lain :

Pertama,Kopi Arabika telah mendunia,oleh karena itu produksi dan produktifitasnya harus terus dijaga terutama kuantitas dan kontinuitasnya.  Ngada memiliki lahan potensial Kopi seluas   12.500 Ha, yang sudah menghasilkan sebanyak 6.000 Ha. Sasaran pasar kita ke luar negeri/ekspor oleh karena itu kopi yang akan di ekspor harus berkualitas dan satu cita rasa sesuai dengan SOPnya.

Kedua,berbicara tentang pemasaran diharapkan perlu ditata kembali mata rantai pemasaran yang mana saat ini hanya terjadi antara Koperasi MPIG dan PT Indocom untuk itu  perlu keterlibatan Pemerintah Daerah terutama mengatur regulasi dan bantuan modal usaha serta  pendampingan teknis. Kedepan perlu mencari buyer lain sehingga harganya lebih kompetitif, Pemda juga mengharapkan buyer tidak hanya membeli kopi tetapi juga membantu pendampingan dari hulu hingga hilir antara lain  perluasan areal tanam, peremajaan, pembangunan gudang, dll  di wilayah Kabupaten Ngada.

Ketiga,Pemda mengharapkan agar proses pengolahan kopi sejak petik, olah dan jual ada di Kabupaten Ngada sehingga ada nilai tambahnya bagi masyarakat Ngada. Kopi yang akan di kirim ke luar daerah adalah kopi berkualitas, dan satu cita rasa serta pemasarannya satu pintu melalui MPIG.  Perlu Proteksi untuk  semua kopi yang akan keluar daerah harus sesuai SOP yang berlaku.

Keempat,Dinas teknis perlu menata kembali UPH – UPH yang ada sehingga dapat berkembang dan memberikan nilai tambah bagianggotanya dan tingkatkan kerjasama dengan PUSKOKA Jember.

Selanjutnya, Perwakilan Bank NTT,  Boy Reynaldo Nunuhitu (Head Group Micro), mempresentasikan  jenis kredit yang akan diberikan kepada petani kopi yaitu Kredit Linkage Program.  Kredit Linkage Program adalah penyaluran kredit kerjasama antara

Bank NTT dengan  Koperasi dalam rangka membiayai usaha mikro dan kecil yang layak.

Tujuan Kredit Linkage Program yaitu :

  1. Meningkatkan pelayanan kredit mikro kepada masyarakat melalui koperasi yang layak/mdemenuhi syarat.
  2. Menumbuhkan iklim usaha yang sehat di masyarakat;
  3. Memiliki patner yang efisien dan efektif untuk berkembangnya koperasi di tingkat desa;
  4. Memperluas jangkauan pendanaan selain dana yang dihimpun melalui Giro, Deposito dan tabungan Bank NTT.

Kredit tersebut bersyarat sesuai dengan aturan yang berlaku di bank penyalur kredit dengan bunga 12 persen efektif atau kredit komersial bunga menurun yang berjangka waktu 12 bulan.Sementara itu, Perwakilan Bank Indonesia Kupang, Elias Balo mengharapkan agar Koperasi MPIG dapat menyiapkan kopi sesuai SOP atau kopi yang berkualitas untuk di pasarkan. Pihak perbankkan siap mendukung dalam hal modal melalui Bank NTT  dan bantuan lainnya melalui dana CSR.

Categories: Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *