Peningkatan kapasitas gender ini digelar atas kolaborasi sejumlah komunitas, yakni: Kelas Inspirasi Bajawa, Komisi Migran dan Perantau Paroki Langa, Orang Muda katolik (OMK) Paroki Langa, Langa Trecking Community (LTC) Asosiasi Wartawan Ngada (Aswan), Forum Ekraf Ngada; yang didukung dan didanai Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) melalui program Citradaya Nita.

Lidwina Dhiu saat memberikan materi workshop.

Kegiatan peningkatan kapasitas gender digelar pada Jumat (31/01/2020) yang lalu. Dihadiri sekitar 25 orang ibu migran ‘Ine Jao’, kegiatan yang berlangsung di cafe ‘Diskusi Kopi Isi Langa’ itu menghadirkan dua narasumber, masing-masing: Maria Dolorosa Nay dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Ngada dan pendampingan Psikologi oleh Lidwina Dhiu.

Dalam pendampingannya, Lidwina Dhiu dengan tuturan yang rennyah namun sederhana membuat para ibu terdiam, saat menyatakan: “Harus bersyukur bahwa kita punya panggilan istimewa, yakni menjadi perempuan. Dalam memaknai panggilan hidup, harus juga disadari bahwa kita juga dipanggil untuk tugas-tugas yang kadang tidak pernah dibayangkan sebelumnya”

Di tangan ibu ada narasi tentang kehidupan anak-anaknya. Ada pengorbanan. Di tangan ibu yang terkatup erat ada doa untuk anak-anaknya. Dan di tangan ibu bisa menjadi apa saja anak-anaknya. Karena itu kunci pendidikan dalam keluarga dan penanaman nilai ada pada ibu dan pendampingan ayah. Suasana pendampingan menjadi hening tanpa suara, ketika memulai sesi ini Winda memperlihatkan cuplikan film tentang peran ibu dalam keluarga.

Tugas ibu sangat berat. Itulah salib bagi orang Kristiani. Namun dari salib yang dipikul dengan sukarela itu mengalir berkat-berkat bagi mereka yang menjalani dengan setia. Tugas ibu terpenting adalah menanamkan nilai bagi anak-anaknya, karena di tangannya para ibu nasib anak ditentukan akan jadi apa. Bukan berarti ayah tidak punya peran. Justru peran ayah harus ditanamkan kepada anak melalui peran ibu. “Ajari anak anda akan peran ayahnya dalam keluarga membesarkan mereka. Rahasia peran ayah harus disingkap melalui ibu, karena itu ayah dan ibu harus hidup dalam keharmonisan sehingga nilai-nilai bisa ditumbuhkan pada anak,” papar Winda perlahan.

Dalam peran tunggal karena ayah merantau bekerja jauh, kadang kita merasa tak sanggup dan ingin menyerah. Tetapi kita harus peka mendengar suara Tuhan, karena Tuhan membutuhkan anda melalui panggilan kita untuk meneruskan kebaikan. Mungkin tiap hari kita mendengar suar-suara lain, tidak menyenangkan, sinis, apriori terhadap perjuangan kita yang tampak tertatih-tatih, tatpi jangan hiraukan itu, tetap arahkan pandanganmu pada panggilannya.

Ibu-ibu Migran Langa saat mendengarkan materi yang disajikan narasumber.

Winda mengajak para ibu, lihat sudah berapa jauh perjalanan anda jika dihitung dari usiamu. Bayangkan sudah sejauh itu yang anda lewati. Sudah sangat panjang bukan? Tanyakan pada diria anda, bagaimana anda mampu melewati segala tantangan dan rintangan dalam perjalanan sejauh itu. Masakan sekarang anda menyerah terhadap hidup dengan alasan tidak kuat. Padahal dibelakang anda, dalam jarak yang panjang tak pernah anda menyerah?

Mulai hari anda dengan mendengar Firman Tuhan. Saat galau sebenarnya anda tidak sendiri. Anda juga bersama dengan orang yang baik di sekitar anda. Tetapi lebih dari itu anda bersama Tuhan yang siap mengulurkan tangan saat anda minta tolong.

Hidup itu menyenangkan, kata Winda kepada para ibu migran yang tampak serius mendengarkan. Menyenangkan kalau kita bisa mengatur, hanya kita terlalu boros. Kita belanjakan sesuatu hanya untuk pakai sekali-sekali. Kita tidak kemas hidup secara cermat. Contoh arisan perabotan ibu-ibu, bukan karena di rumah tidak ada perabot, tetapi hanya untuk disimpan dan pakainya pun kadang-kadang. “Jadi kita ini berhutang untuk barang-barang yang tidak digunakan keseharian. Hidup hanya ikut arus. Sebelah beli ini dan itu, kita juga tidak mau kalah. Setiap datang tukang kredit kita ikut kredit lagi. Beli tas hanya karena ingin agar serasi dengan gaun ini dan itu. Nah berapa kita punya gaun, sehinga perlu tas dan sepatu yang serasi? Begitu juga kosmetik, kita beli yang mahal,” terang Winda yang disambut tertawa kecil para ibu.

Kalau begini yang terjadi, maka sebenarnya kita yang punya hidup tetapi kita sendiri yang bikin susah dengan banyak keinginan – bukan utamakan kebutuhan.

Winda juga sempat menanyakan, sering komunikasi dengan suami di tempat rantau. Para ibu serantak menjawab sering. Hanya intensitasnya ada yang tiap minggu, dua minggu dan tiap bulan. Dikatakan lagi, kadang suami kirim uang dari rantau, mislanya untuk bangun rumah, tetapi setelah waktu lama dan pulang rumah tidak ada, bahkan uang kiriman pun kosong direkening. Banyak istri yang justru menyalahgunakan nafkah kiriman suami yang dicari dengan susah payah. Di sini istri foya-foya dan punya Pria Idaman Lain (PIL) lagi.

Banyak juga diberi bantuan untuk usaha, tidak lama cari bantuan untuk usaha lain demikian seterusnya. Semua usaha tidak pernah fokus. Akhirnya usaha sifatnya hanya coba-coba. Harus dingat bagwa hidup ini serius, bukan hanya coba-coba. Karena persoalan juga pelik, bukan coba-coba.

Karena itu dalam usaha perlu disiplin. Disiplin kata Winda berkaitan dengan sukses. Manajemen waktu harus diperhatikan. Sejak bangunpagi kerjakan apa, lanjut kegiatan apa dan seterusnya hingga menjelang istirahat malam. Jangan sampai mau pergi beri makan ternak, karena ada teman bertandang kita larut hanya gara-gara kita tidak enak. Jadi ini bisa menghambat siklus kerja atau kegiatan kita selama sehari. Kalau disiplin maka kerja akan produktif. “Jadi hidup kita akan berarti kalau kita menentukan tujuan. Dengan menentukan tujuan maka sehari ada target waktu.

“Mulailah kita ubah pola pikir. Kita mau hidup seperti apa? Kalau hidup diisi dengan hal-hal negatif, maka yang negatiflah yang akan menghiasi hidup kita. Kalau hal-hal positif yang dipikir maka hal-hal yang produktiflah yang akan merenda keseluruhan hidup kita. Penuhi hidup dengan ucapan syukur,” tegas Winda menutup sesinya.

Pada sesi yang lain di hari yang sama, Jumat (31/01/2020) dalam kegiatan peningkatan kapasitas gender kepada ibu-ibu migran ‘Ine Jao’ di Langa, Maria Dolorosa Nay dari dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Ngada memberikan pemahaman tentang gender.

Salah satu pemateri Maria Dolorosa Nay saat memberikan materi workshop tentang penguatan kapasitas gender.

Maria Dolorosa yang akrab disapa Ros Nay itu, mengawali materi gender dengan pendasaran biblis. Dalam kisah penciptaan laki-laki dan perempuan menempati posisi setara. Mereka laki-laki dan perempuan diciptakan sesuai dengan gambar Allah. “Kalau demikian maka tidak boleh ada kekerasan terhadap pasangan. Karena setiap melihat pasangan kita sebenarnya kita sendang melihat gambar Allah itu sendiri,” kata Ros.

Karena mereka diciptakan sepadan – perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Adam) – supaya mereka saling ‘merangkul’, saling melayani, perempuan dilindungi. Itu sebabnya komunikasi suami istri tidak boleh bias gender. Jenis kelamin (kodrat) tidak bisa diubah, sebaliknya perannya (gender) itu yang bisa diubah.

Makanya dalam keluarga – apalagi yang kerja dua-duanya – supaya ada kesepakatan untuk mengambil peran yang sama dalam keluarga. Kalau istri memasak maka suami mencuci pakayan atau pekerjaan lainnya yang dalam masyarakat tradisional laki-laki dikatakan tidak boleh kerja di dapur. Terkait peran (gender) maka hal itu bisa saling menggantikan.

Pada saat pendampingan para ibu migran, Ros membeberkan bentuk-bentuk ketidakadilan gender, seperti: subordinasi atau penomorduaan; peminggiran (marginalisasi; kekerasan (violence); dan beban ganda.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta, Ibu Lina Gedha memberi apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan ini sehingga para ibu akhirnya dapat memahami gender dan motivasi dalam menghadapi kehidupan.

“Kami baru sadar bahwa hidup itu menyenangkan tergantung pola pikir kita. Kita mau berubah atau tidak? Seperti tadi bilang: kalau belanja sesuatu karena keinginan bukan kebutuhan. Jadi kami terima kasih sudah dapat pencerahan dengan dari narasumber hari ini,” kata Lina.

Sementara Kristina Bari, salah seorang yang tertarik dengan kegiatan komunitas ini mengatakan, dirinya lebih terinspirasi setelah ikut kegiatan ini meski dirinya bukan kategori ibu migran. Namun dia tertarik ikut dan ternyata sangat menarik dan sungguh membuka wawasan para ibu.”Ini pelajaran berharga. Hari ini bagai obat bagi kita dan pendampingan ini seperti kekuatan baru yang akan membuat kita mampu mengatasi masalah dalam rumah tangga kita. Berarti mulai sekarang jangan kita dikuasai masalah tetai kita harus menguasai masalah,” papar Kriistina.

Kegiatan peningkatan kapasitas gender memberi manfaat bagi para ibu baik pemahaman tentang peran maupun motivasi dalam mengatasi beban hidup yang mereka hadapi. Pada sesi berikut yang akan berlangsung dua pekan mendatang, kegiatan peningkatan kapasitas gender dilanjutkan dengan pendampingan /pelatihan menenun, pendampingan jurnalisme perpektif gender dalam menyampaikan gagasan secara lisan dan tertulis dan diskusi.***

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada