Alam dan Lingkungan di Kecamatan Wolomeze, termasuk di dalamnya Desa Nginamanu, kini mengalami kerusakan berat. Hal ini akibat kebakaran hutan yang menyertai kegiatan berburu berkedok adat, pembalakan liar, dan penggunaan racun untuk menangkap isi sungai setiap tahun. Lahan sejauh mata memandang sudah gundul dan menyuguhkan warna hitam legam pada musim kemarau. Hal ini membuat komunitas masyarakat adat Tajo di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze terenyuh.

Prihatin dengan aksi berburu membabi buta yang merusak lahan warga yang berkedok berburu adat itu, komunitas masyarakat adat Tajo di Desa Nginamanu, Sabtu (05/10/2019) melakukan ritual ‘pepu’ — berburu yang ekologis. Seperti biasa, warga adat melakukan prosesi dari kampung menuju ,loka, tempat ritual. Uniknya, warga adat selain membawa perlengkapan berburu mereka juga membawa anakan pohon, sebagai bentuk keprihatinan mereka pada alam yang sudah gundul.

Prosesi ritual ‘Pepu’ dipimpin oleh pemangku adat kampung ini, Andreas Watu dan Silvester Leo. Menyertai mereka sekitar 30 orang warga adat termasuk orang muda dan perempuan. Di ‘loka’ luar kampung warga adat mengelilingi ‘pike’ – kotak batu tempat ritual adat.

Dua pemangku adat kampung ini menandai ritual ‘pepu’ dengan ‘pau manu’ – potong ayam secara adat – yang kemudian darahnya diperciki di loka. Sebagai keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan, warga adat membawa serta anakan pohon ke ‘loka’ sebagai persembahan sekaligus minta restu leluhur agar gerakan berburu yang ekologis – melalui tanam pohon – dapat berhasil. Darah ayam sebagai simbol penyucian juga diburati pada peralatan berburu dan anakan pohon.

Selanjutnya warga adat yang mengelilingi ‘loka’ memberi makan kepada leluhur. Usai ritual adat sebagai keprihatinan pada masalah ekologi, Pemangku adat kampung Tajo Andreas Watu dan Silvester Leo menerima anak pohon secara simbolis dari Ketua Yayasan Puge Figo (YPF) Emanuel Djomba. Kemudian anakan pohon secara simbolis ditanam di sekitar ‘loka’. Ini pesan bahwa anakan pohon yang sudah ditanam diloka menjadi tanda dimulainya gerakan menanam pohon dari lingkungan sendiri. Kegiatan ini juga sebagai tanda bahwa sebentar lagi segera memasuki musim hujan sesuai perhitungan bulan adat – dimana kegiatan bercocok tanam warga adat sudah akan dimulai lagi.

Pada kesempatan itu salah seorang pemangku adat kampung Tajo, Silvester Leo, mengatakan berburu menjadi bagian dari budaya. Hanya pihaknya melihat ada pemahaman yang berbeda. Itu karena selama ini banyak kegiatan berburu yang malah merusak alam dan berburu secara membabi buta terhadap binatang buruan.

“Berburu bagi kami, kata silvester, tidak boleh merusak. Apalagi sekarang ini lingkungan alam kita sudah rusak, jadi kita harus mengembalikan hutan yang sudah gundul, sehingga kalau sudah ada hutan pasti binatang itu datang lagi tinggal di sana. “Sekarang ini, kata dia lagi, binatang sudah tidak ada lagi. Kita mau berburu apa. Mau dapat apa lagi,” tanya Silvester.

Silvester mengajak masyarakat adat agar tetap menjalankan tradisi tetapi tidak boleh merusak. Kepada warga sekitar maupun warga luar, beliau minta supaya tidak merusak. Jalankan adat dan budaya dengan baik supaya hidup ini jadi baik.

Sementara tokoh adat lainnya saat mengikuti ritual ‘pepu’ Laurensius Nende, mengatakan ‘pepu’ jangan disalah artikan. Menurut dia, secara adat budaya di Nginamanu (Tanawolo), sejak dahulu ‘pepu’ atau ‘pipi’ – ‘pipilindi’ mengandung makna menjaga, merawat, dan melestarikan. Karena itu pesan di ‘loka’ melalui ‘pepu’ sebelum berburu bahwa berburu harus ramah terhadap lingkungan.

Dalam adat budaya Nginamanu (Tanawolo) kata Laurensius, setiap kawasan hutan (witu dalam bahasa setempat) ada yang punya atau yang menjaga, atau dalam bahasa lokal Tanawolo ‘mori witu’. Dari semua kawasan di Nginamanu raya ada penjaga (pengasuhnya). ‘Mori witu’ yang megatur dan mengajak warga adat agar menjaga ‘witu-nya’ agar tetap lestari. Saat berburu ambil seperlunya saja, jangan menguras habis. Ambil sesuai kebutuhan saja.

Karena itu, menurut Laurens, jika hari ini masyarakat adat Tajo melakukan ritual ‘pepu’ – berburu secara ekologis – sebenarnya bukan hal baru, karena sebenarnya pemaknaan ‘pepu’ memang demikian. “Ini ‘pepu’ menurut budaya kita, dan kita tidak bicara menurut orang di tempat lain,” kata Laurensius.

Sementara Ketua YPF, Emanuel Djomba yang juga hadir pada ritual ‘pepu’ memberi apresiasi kepada masyarakat adat Tajo yang peduli dengan masalah lingkungan. Ternyata budaya berburu, kata dia, sesuai dengan semangat kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur. Misalnya dalam bahasa lokal ada ungkapan yang menunjukkan tindakan melestarikan lingkungan dan konservasi air, yakni: “Wasi ri’a mata wae, ana nitu mai mole, bahwa senantiasalah merawat mata air – dengan menjaga hutan – agar air pemilik kehidupan terus mengalir.

Sebagai yayasan yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan – konservasi, pemberdayaan dan edukasi ekologi, pihaknya menilai budaya berburu yang ekologis sangat positif guna mengembalikan alam yang sudah rusak parah. Karena itu dia minta perhatian semua pihak agar berburu dengan cara mengeksploitasi alam dihentikan karena banyak spesies binatang yang punah saat ini, yang artinya sudah merusak ekosistem. Jika tidak, maka kondisi alam kita ke depan akan semakin parah dan ini awal bencana bagi manusia di muka bumi ini.

Untuk kegiatan pelestarian lingkungan, kata Emanuel, pihak YPF menjalin kerja sama yang positif dengan pihak mana saja, seperti dengan komunitas masyarakat adat, karena melalui adat ada karifan lokal yang diwariskan leluhur dalam menjaga kesinambungan.

Kerja sama YPF juga terjalin dengan lembaga pendidikan dalam mengembangakan pendidikan ekologi, pendampingan petani dalam rangka pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dan memberdayakan petani mengembangkan tanaman aromatik yang bernilai ekonomis.

Terkait dengan kerusakan alam terutama yang diakibatkan tindakan manusia membakar hutan juga menarik perhatian Bupati Ngada Paulus Soliwoa. Beberapa waktu lalu Bupati Soliwoa turun langsung bersama aparat memadamkan api ketika terjadi kebakaran di obyek wisata Wolobobo, dan dia minta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas.

Menjawab media suatu kesempatan, Bupati Soliwoa minta masyarakat agar menjaga alam bagi kehidupan. Upaya yang dilakukan, kembali kepada kearifan lokal yang diwariskan leluhur dalam menjaga alam agar tetap lestari demi keseimbangan dan kesinambungan kehiupan

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada