Wangka, Riung (Ngada) – Ada banyak bentuk kesenian di Wangka mulai dari alat-alat musik tradisional, lagu daerah, dongeng-dongeng leluhur, ritual-ritual maupun pesta adat.Sebagian besar masyarakat Wangka bermata pencaharian sebagai petani dengan penghasilan utama mereka adalah padi yang dijadikan beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat umumnya. Sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen,masyarakat Wangka melaksanakan syukuran dalam bentuk upacara pesta adat yang sering disebut dengan Oreng.

Oreng merupakan seni tandak adat yang dinyanyikan pada malam hari dalam suasana suka cita. Oreng biasanya dilakukan oleh orang tua adat yang mahir dalam berkias dan membuat syair. Syair yang dibuat berisi tentang syukuran seperti puji-pujian sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Syair yang dibuat memiliki makna yang mendalam dan terdapat pesan-pesan moral. Tidak semua orang dapat melantunkan oreng, namun hanya orang tua adat yang pandai dalam mendaraskan syair dan berbalas pantun. Mereka bersekutu lalu kemudian mulai bertandak (menari) sambil melantunkan syair dan berbalas pantun secara bersahut-sahutan. Upacara ini dihadiri oleh semua masyarakat dalam satu kampung yang datang menyaksikan dan dapat berpartisipasi dalam kegiatan tandak sekaligus bersukacita dan bersyukur atas hasil panen yang diperoleh.

Dalam pelaksanaannya, Oreng biasanya dilakukan di setiap kampung di desa Wangka yang diikuti oleh seluruh masyarakat dalam kampung tersebut. Adapun pihak yang terlibat dalam upacara oreng terdiri dari orang tua adat sebagai orang-orang yang menyampaikan pesan moral lewat syair-syair yang didaraskan dan masyarakat dalam satu kampung yang terdiri dari orang tua, orang muda, dan anak-anak yang datang untuk mendengarkan pesan moral dalam bentuk oreng yang disampaikan oleh orang-orang tua adat tersebut. Adapun pesan yang disampaikan oleh orang tua adat terkait dengan ungkapan-ungkapan syukur dan pesan-pesan yang berhubungan dengan kehidupan sosial yang berguna bagi masyarakat yang berpengaruh besar terhadap kehidupan sosial masyarakat Wangka itu sendiri.

Pada masyarakat Wangka, Oreng biasanya dilaksanakan sesuai kalender musim yaitu pada bulan Oreng (Mei – Juni). Upacara Oreng hanya dilaksanakan oleh 4 suku yaitu suku Ri’i, suku Ze’a, suku Tazo’, dan suku Mbongras, sehingga dari keempat suku tersebut Oreng sering disebut dengan Ski ri’i,

Oreng merupakan upacara yang dibuat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan sekaligus sebagai upacara pembukaan bagi seluruh kegiatan yang akan dilakukan selama satu tahun ke depan dimana setelah diadakan upacara oreng ini, masyarakat setempat boleh mulai bekerja membuka lahan untuk kembali ke proses menanam dan seterusnya.

Selain sebagai upacara syukuran dan pembukaan seluruh kegiatan dalam setahun, Oreng juga dilaksanakan untuk mengevaluasi seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan dalam satutahun. Adapun hal-hal yang dievaluasi adalah berupa kegiatan-kegiatan di bidang pemerintahan,kehidupan sehari-hari dengan tetangga, kehidupan perkawinan yang tidak harmonis,kegiatan- kegiatandi bidang pendidikan, dan semua kegiatan-kegiatan yang terjadi dalam kehidupansehari – hari. Proses evaluasi ini disampaikan dalam bentuk pantun saat upacara Oreng berlangsung.

Dalam upacara Oreng semua orang bebas memberikan kritik terhadap siapa pun. Merekayang memberi evaluasi pada saat upacara Oreng tidak akan mendapat denda atau hukumankarena dilakukan saat upacara adat, namun jika di kritik atau di evaluasi bukan saat upacara Oreng maka yang mengkritik akan mendapat denda dari yang bersangkutan.

Dalam pelaksanaannya sering ditemukan pihak-pihak yang menghindar dari upacara Oreng tersebut karena dikritik dengan kejam dan tidak mampu membalas mengkritik. Kritikan-kritikan disampaikan dalam bahasa adat.Oreng dilaksanakan di halaman rumah atau lapangan adat. Para tokoh adat berdiri membentuk lingkaran kemudian mulai bertandak atau menari sambil menyanyikan lagu Oreng

yang diselingi dengan pantun-pantun adat sebagai peramai suasana.

Upacara Oreng ini dihadiri oleh semua masyarakat dalam satu desa dari berbagai usia mulai dari anak-anak sampai orangtua. Semua orang bebas masuk di dalam lingkaran tersebut asalkan ia padai berbalas pantun dan bertahan menerima kritikan dari orang lain. Upacara oreng ini biasanya dilaksanakan sepanjang malam bahkan sampai menjelang pagi. [//Sumber:Fransiskus Pedro Felano Laga]

Categories: Event

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada