Stunting menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat Kabupaten Ngada saat ini. Jumlah kasus stunting di Ngada saat ini cukup tinggi. Hal ini menjadi keprihatinan Pemerintah Kabupaten Ngada untuk segera mengatasinya. Penegasan ini disampaikan Bupati Ngada saat memimpin Upacara Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-74 Tingkat Kabupaten Ngada yang berlangsung di Lapangan Kartini Bajawa.

Bupati Ngada, Drs. Paulus Soliwoa dalam pidatonya menegaskan beberapa hal terkait isu Stunting yakni Pemerintah Kabupaten Ngada terus berupaya mengatasi berbagai persoalan di bidang pembangunan, termasuk yang saat ini menjadi momok bagi pembangunan yaitu masalah stunting dan rabies.

Stunting adalah Kondisi Gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan Gizi Kronis sehingga anak terlalu pendek (tidak sesuai standar baku WHO) untuk usianya. Kondisi Stunting akan nampak setelah anak berusia 2 (dua) tahun. Pada Tahun 2018, dari jumlah 8.215 Balita terdapat balita Stunting sebanyak 2.690 anak, atau setara dengan 32,74 %.

Konvergensi program dan kegiatan baik yang bersifat Spesifik maupun yang bersifat Sensitif sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya Stunting di Kabupaten Ngada. Pencegahan stunting harus dilakukan sebab balita yang sehat dan kuat, akan menjadi modal dasar dalam mewujudkan lahirnya Sumber Daya Manusia yang Kreatif, Inovatif, Unggul, dan Berdaya Saing.

Menuntaskan Balita Stunting di Kabupaten Ngada melalui aksi Konvergensi Program dan Kegiatan dalam bentuk Intervensi Spesifik melalui Dinas Kesehatan dan Intervensi Sensitif melalui kolaborasi dengan Perangkat Daerah Terkait lainnya, dan mewujudkan Gerakan Go Organik dengan memanfaatkan Kawasan Rumah Pangan Lestari dan Desa Mandiri Pangan. Dan masalah Stunting harus menjadi Prioritas Pertama baik di Tingkat Nasional, Provinsi NTT maupun Kabupaten Ngada.

Sementara itu, Bp-Litbang Ngada ditetapkan menjadi Sekertariat Bersama untuk penanganan kasus Stunting di Ngada. Semua stakeholder termasuk OPD terkait, diharapkan untuk berkolaborasi dalam menangani kasus stunting di Ngada, mulai dari Dinas Sosial, Kesehatan, Ketahanan Pangan, PMDP3A, Perumahan, Pertanian, Peternakan, Kominfo, Kelautan dan Perikanan, Kependudukan dan Capil, Pendidikan, Pasiter Kodim 1635 Ngada, PKK Ngada, Faskab Sanimas serta koordinator Pamsimas. Saat ini, Tim dari Provinsi sedang melakukan uji petik lapangan, atas laporan penanganan dan pencegahan stunting. Uji petik ini untuk memastikan apakah penanganan stunting di masyarakat sudah berjalan baik dan efektif, yang dibuktikan dengan penurunan kasus.

Kepala Bp-Litbang Ngada Hilarius Sutanto saat kegiatan FGD Stunting di aula Bapeda, Rabu 21 Agustus 2019, mengatakan bahwa dampak Stunting berbahaya jika ditangani secara baik, setidaknya beberapa waktu kedepan, Ngada akan memiliki penduduk yang stunting, kurangnya kualitas SDM dan menurunnya produktivitas dan kinerja.

“Hampir semua stakeholder jadi ujung tombak pencegahan stunting, spesifik misalnya di Dinas kesehatan untuk pendampingan Ibu Hamil dan 1000 hari kelahiran pertama, pengelolaan air bersih di PU dan Perumahan, Makanan organik oleh Dinas Pertanian untuk antisipasi gizi kronis pada anak dibawah lima tahun, termasuk di tingkat Desa agar perlu menyadarkan masyarakat tentang isu ini serta pencegahannya,” jelas Sutanto

Saat ini prosentase stunting di Ngada sebesar 32,7 persen, mengalami penurunan turun 27 persen dari tahun sebelumnya. Untuk mencegah agar program tidak salah sasaran, maka diperlukan satu data satu peta untuk setiap updating stunting, melalui langkah integrasi data dan orang.

Dr. Nita dari Bapeda Propinsi NTT, mengatakan bahwa dana untuk penanganan Stunting ada 63 triliun, namun tidak terarah dari Pusat ke Desa. Kabupaten Ngada menjadi contoh penanganan Stunting karena mengalami Penurunan Stunting tertinggi di NTT. Ngada masuk 10 besar pencegahan stunting, sehingga tim datang untuk melakukan verifikasi faktual sesuai dokumen yang sudah dilaporkan.

Peserta FGD Stunting

Menurutnya, isu Stunting harus sampai ke Desa, pendampingan dari Dinas dimulai sejak Musrenbangdes. Perlu melakukan pembentukan sekber stunting, sehingga ada keseragaman program untuk cegah Stunting. Di Ngada sendiri ada 69 Desa yang proritas cegah Stunting. dari 135 Desa definifif, 34 desa yang dipilih dikarenakan memiliki 50 persen balita stunting.

Sementara itu, OPD yang hadir, memaparkan beberapa program kegiatan yang telah dilaksanakan untuk pencegahan stunting di Ngada. Dari Dinas kesehatan dilakukan sosialisasi menu seimbang , Pelatihan Motivator Menyusui, Orientasi Pencegahan Anemia Remaja Putri , Kelas Ibu Hamil dan Balita.

Dari Dinas Perumahan dengan kegiatan pengadaan ada Air Bersih dari jatah APBD maupun DAK, Sanitasi Sehat melalui APBD, yang kesemua pelaksanaannya merujuk pada data Desa Stunting.

Dinas Sosial menjalankan Program PKH dari Pusat untuk Pendidikan dan Kesehatan Ibu hamil dan anak usia Dini, Dana Pendidikan untuk SMP dan SMA pertahun sebesar 2,4 juta per anggota keluarga.

OPD Terkait Terlibat Program Cegah Stunting

Dinas Pengendalian Penduduk dan KB telah melakukan Pembinaan Bina Keluarga Balita Integrasi dengan Posyandu dan Paud dengan jumlah 10 Kelompok. Solialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Sekolah dengan 49 Kelompok Remaja, Edukasi 1000 Hari Pertama di 10 Desa Stunting, Pelatihan Pengelolaan Tenaga PLKB dan Guru Pendamping, Penguatan Kapasitas Kader KB.

PKK Ngada juga berkontribusi besar dalam penanganan stunting melalui Pelatihan Menu Bergizi dan Seimbang, yang telah disusun dalam sebuah buku dan disebarkan ke semua kader Posyandu dan PKK di Ngada, untuk referensi menyajikan menu anak dan Balita.

Dinas Ketahanan Pangan mengerjakan program Kawasan Rumah Pangan Lestari berlokasi terpusat di 5 Desa Stunting, dengan sasaran Ibu Rumah Tangga. Pelatihan ini berupa pemanfaatan pekarangan, Kebun Bibit, Demplot untuk Percontohan. Setiap Kelompok mendapat dana sebesar 50 juta dan ditargetkan tahun 2020, program ini akan menjangkau sekitar 20 Desa. Dinas Peternakan melakukan kolaborasi dengan Ketahanan Pangan, yakni Pengembangan Peternakan unggas.

Untuk Dinas Pendidikan melalui Pemberian Makanan Tambahan bagi 141 sekolah Swasta dan Negeri di Ngada, juga menyurati semua kepala sekolah untuk mewajibkan orang tua menyiapkan makanan tambahan bergizi atau bekal sehat. Pihak sekolah juga diwajibkan menanam sayur organik untuk dikonsumsi oleh anak sekolah.

Dinas Komunikasi dan Informatika, melalui media resmi Pemerintah Ngada, menjadi ujung tombak penyampaian informasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang stunting, sehingga semua lapisan masyarakat dapat memperoleh informasi yang tepat dan mulai berkolaborasi menyatukan kerja-kerja dalam penanganan stunting. Sinergi yang tepat antar Pemerintah dan Masyarakat, diharapkan dapat dengan cepat menurunkan angka stunting dan pencegahan di masa mendatang.

Categories: Berita

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada