PETANI ITU TIDAK HANYA HARUS KOTOR, NAMUN JUGA HARUS CERDAS DAN MENGINSPIRASI

Published by Administrator on

Perkebunan Sayur

Wolobobo, sebuah puncak yang saat ini menjadi salah satu destinasi wisata di bumi Ngada karena kekayaan panorama Inerie serta perkampungan tradisonal Langa yang menjadi suguhan ketika kita menjejaki ujung tertingginya. Namun, ada kekayaan lain yang bisa anda jumpai disana, tepatnya masih di bawah kaki Wolobobo, beberapa ratus meter sebelum memasuki puncak, anda cukup belok kiri dan berjalan di jalan tani sekitar 30 meter. Sebuah lokasi bernama Selo yang masuk dalam wilayah Desa Bomari.

Ada hamparan perkebunan sayur yang mengagumkan. Kol, sawi,tomat,cabai,pepaya,tumbuh subur menggugah selera. Ditanam dengan sangat rapi, jadi tidak hanya kesuburan namun estetika dan keindahan barisan tanaman sayuran itu menjadi daya tarik.

Petani Tulen

Adalah Nikolaus Wali, petani yang memang petani. Dengan menyewa lahan seluas satu hektar dan modal semampunya dan berbekal pengetahuan selama beberapa tahun sebagai Kontak Tani, di tahun 2015, ia mulai  mengawali usaha tanam sayur. Fokusnya hanya menanam ragam jenis tanaman sayur. Ia percaya, sayur adalah kebutuhan harian dan siapa saja akan mencarinya . Alhasil seribu pohon sawi dan kol ditanamnya. Dari hasil tanam tersebut, ia memberanikan membuka pasaran ke Labuan Bajo. Ternyata, permintaan pasar Labuan Bajo sangat tinggi, bahkan Niko Wali kewalahan memenuhi tuntutan kebutuhan sayur di Labuan Bajo. Setelah dikurangi dengan biaya tenaga kerja, pupuk  dan sewa lahan, panen tahun pertama mengantarnya mampu membeli sebuah pick up yang tentu dibutuhkan untuk memudahkan pengangkutan hasil tanam.

Ditemui Tim Media Website Kabupaten Nagada di pondok miliknya yang berukuran kecil, ia berujar “ Mengapa petani kita tidak fokus menanam sayuran? Kita terlalu berpikir keras menanam kopi atau kentang, sementara sayur, lombok, tomat yang jadi kebutuhan harian,malah didatangkan dari luar daerah,  Bima dan Jawa. Kita punya tanah yang subur, yang kurang dari kita adalah Sumber Daya Manusia, karena kita memang tidak mau belajar, hanya pasrah menjadi petani apa adanya.

Budaya menanam rupanya sudah ia lakukan sejak beberapa tahun silam, Saat pria yang hanya tamatan Sekolah Dasar ini dipercayakan menjadi Sekretaris Desa Watukapu pada tahun 2003. Cukup sibuk di dunia tanam menanam dan aktif sebagai Kontak Tani masa itu,  Niko Wali  kemudian pernah beberapa kali dikirim oleh Pemerintah Kabupaten Ngada untuk mengikuti  kegiatan Peda Penas, Seminar dan Sarasehan Pertanian di beberapa Daerah seperti Minahasa di tahun 2004 dan  Muara Enim di tahun 2007. ” Untuk belajar pertanian, saya sudah keliling hampir semua wilayah di Indonesia,Jawa, Sumatra, Sulawesi, yang belum tinggal Papua saja ” Ujar pria yang pernah menerima penghargaan Kalpataru Tingkat Provinsi Tahun 2004, karena dinilai sebagai Pelestari Lingkungan. Beliau membuktikannya dengan menanam pohon Mahoni, kayu putih  di  10 Hektar lahan miliknya di Watukapu  sejak tahun 2003 sampai saat ini.

Kontrak Lahan

Saat ini Niko Wali sudah mengontrak lima hektar lahan di Selo, Wolobobo yang sudah mulai ditanami sayuran. Didominasi Kol dan Sawi karena permintaan yang tinggi. Selain itu ada terung, tomat, lombok, Pepaya, Pucuk Labu, serta beberapa petak jahe/ halia. Mulanya ia mengalami kesulitan dalam hal pemasaran, namun saat ini selain Labuan Bajo dengan permintaan tinggi, banyak pembeli yang sudah langsung datang ke lokasi dengan kendaraan sendiri untuk membeli sayuran dalam jumlah banyak maupun  untuk  sekedar kebutuhan konsumsi harian. ” Kebun ini sudah seperti pasar kecil dan Obyek wisata sayur, tiap hari banyak orang datang.  Jadi, tidak perlu takut tanam sayur, yang penting mau belajar dan rajin membaca, saya percaya usaha ini tidak sia-sia. Sekarang saja permintaan sayuran ke Labuan Bajo bisa sampai 10 kendaraan per bulan, berarti sekitar 20 ribu kol dan sawi yang diminta, belum sayuran lain. Saat ini  saya panen sekitar 500 pohon per minggu dan per bulannya baru dua ribu pohon yang dikirim ke sana.  Masih jauh dari tuntutan pasar. Makanya saya sudah mulai ajak tetangga kebun sekitar, ayo tanam sayuran, wortel atau sayuran apa saja, saya bantu pemasaran, sehingga bisa penuhi permintaan pasar dan bisa ada pendapatan yang pasti “ Niko Wali bercerita kepada Cermat sembari menyiapkan pupuk sayuran yang ia buat sendiri.

Pendapatan per minggu

Untuk pendapatan ia menjelaskan  dalam satu bulan ia bisa menghasilkan sekitar lima belas juta rupiah, digunakan untuk pupuk dan air sekitar tiga juta rupiah,  dan gaji atau upah tenaga kerja lima juta dalam sebulan. Tenaga kerja yang membantunya di kebun adalah para remaja tamatan SMA yang belum bisa melanjutkan pendidikannya karena benturan biaya. Para remaja ini diajak untuk bekerja, digaji namun Niko Wali juga menularkan ilmunya kepada mereka, dengan harapan suatu saat nanti, mereka inilah yang akan menjadi petani sayur berkualitas di masa datang. Sementara untuk pemasaran, ia dibantu anaknya dengan kendaraan pick up hasil jualan sayur, dan rencananya dalam waktu dekat, Niko Wali akan menambah satu kendaraan lagi guna memudahkan dan meningkatkan jumlah angkutan sayur ke pasaran.

Target produksi dan pemasarannya yang akan digenjot  pada bulan Juni mendatang adalah enam ribu pohon sayur per bulan yang artinya jika dikalikan lima ribu rupiah maka ia bisa mendapatkan hasil sekitar tiga puluh juta rupiah per bulan. Peningkatan ini juga akan menyerap penambahan tenaga kerja menjadi  tujuh sampai delapan orang. Dibantu istri dan anaknya, serta beberapa tenaga kerja, Niko Wali tengah bekerja keras menggapai impiannya meningkatkan jumlah pemasaran.

Penerima Penghargaan

Pria kelahiran Fui, 2 Februari  1953 ini selain penerima Kalpataru dari Bappeda NTT juga pernah meraih predikat Petani Berprestasi Tingkat Nasional dengan menerima piagam dan uang sebesar dua puluh juta rupiah. Namun untuknya, penghargaan ini tidak terlalu penting. Tujuan utamanya adalah bagaimana ia bisa mewujudnyatakan ilmu yang didapat, bisa menginspirasi dan menjadi contoh bagi orang lain serta dapat membantu orang lain untuk belajar. Saat ini ia beberapa kali diminta oleh pemerintah desa untuk memberikan pelatihan langsung kepada beberapa kelompok petani sayur. Ia juga menjadi contoh bagi petani sekitar untuk menirunya menanam sayuran.

Harapan

Ia berharap kepada Pemerintah, untuk sekiranya dapat memfasilitasi mengumpulkan para petani di Ngada untuk saling bertukar pengetahuan, pengalaman dan saling mendukung satu sama lain. Setidaknya ada forum bagi para petani di Ngada untuk bersama tumbuh menjadi petani potensial. Ia juga menggantungkan harapan agar jalan tani menuju lahan sayur dapat segera diperbaiki, agar memperlancar transportasi dan memudahkan siapapun untuk datang berbelanja sekaligus belajar menanam sayur. Pintu terbuka untuk siapapun yang mau belajar dan bertanya. Ia ingin kebun sayurnya tidak hanya sekedar kebun tapi menjadi tempat wisata dan ruang studi.

Impian

Cita – cita Pria 64 tahun yang  tampak sehat saat ini masih banyak. Ia ingin cucunya mewarisi ketrampilan menanam yang dimiliki. Saat ini cucu sulungnya tengah belajar di Sekolah menegah atas sambil mengikutinya belajar menanam. Niatnya tinggi menyekolahkan cucunya menjadi Insinyur Pertanian, dan kembali ke kebun menanam sayur, tapi tentunya Petani sayur yang Moderen dan cerdas. Baginya berilmu tinggi tanpa kerja keras adalah sia –sia, Petani saat ini jangan jadi “ Orang Pinggiran”.

Jadilah petani yang Cerdas, bekerja keras, mandiri dan mampu menginspirasi.

(/merlyn iju lalu)

Categories: Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *