REBA SEBAGAI WARISAN BUDAYA NON BENDA NASIONAL

Published by Administrator on

Kalimat Sakral

Sili Ana Wunga, da Nuka Pera Gua”. Demikian sepenggal kalimat sakral yang biasanya dikumandangkan dalam penyambutan  pesta adat Reba. Jika diterjemahkan secara harafiah dapat diartikan “ Sili sebagai yang pertama (sulung), yang datang dan menunjukan atau meletakan dasar budaya Ngada termasuk Reba”

Penentuan Reba

Perayaan Reba adalah penggabungan ritual budaya dan agama. Bagi orang Ngada, Reba wajib dilakukan setahun sekali di kampung halaman, sesuai kalender adat masing masing. Pesta adat ini masih hidup dan terus dilakukan sebagai ritual yang sudah mengalir dalam darah masyarakat Ngada, dan biasanya dirayakan sejak akhir Desember sampai Februari bertepatan dengan musim hujan dan angin. Tanggal penentuan Reba sendiri berdasarkan kalender adat yang disebut paki sobhi (tahun sisir) atas petunjuk  seorang “Mori Kepo  Wesu”, yaitu pemegang adat istiadat sebagai yang berwenang. Reba sebagai momen untuk mengenang dan menghormati para leluhur secara istimewa, juga menjadi momen permenungan akan nilai luhur yang diwariskan para leluhur seperti nilai persatuan, gotong royong, bekerja tanpa lelah yang menjadi dasar pijak kehidupan manusia.

Sarana Pemersatu

Budaya tahun baru tradisional asli Bajawa ini selain sebagai sarana pemersatu keluarga, suku dan lintas kampung, juga mampu menjaring wisatawan nusantara dan mancanegara. Bukan hanya soal makan minum dan kegembiraan yang dihadirkan, namun dari Reba akan  banyak hal menarik yang didapat dibalik ritual ini, tari tarian, pakaian tradisional, berbagai macam bahasa adat atau pata dela dalam upacaranya, dan tahapan upacara Reba yang unik dan sakral.

Warisan Budaya Non Benda Nasional

Masyarakat Ngada pantasnya berbangga dengan ritual yang sudah mendunia ini. Kebanggaan masyarakat Bajawa akan Reba semakin memuncak saat ini, setelah akhirnya Reba ditetapkan sebagai Warisan Budaya Non Benda Nasional, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas nama Presiden Republik Indonesia.

Bukan tanpa sebab Ngada mesti berbangga, penetapan ini bukan merupakan proses yang mudah. Adalah Asri Moi, seorang ahli arkeolog yang banyak berkontribusi menangani warisan budaya Ngada mengisahkan, perjuangan mendapatkan pengakuan dari pemerintah dimulai dari tahun 2015 saat Bidang Kebudayaan masih bernaung di bawah Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga. Tidak hanya Reba yang diusulkan kepada Kementerian untuk mendapat pengakuan secara resmi, namun juga budaya Ngada lainnya seperti Sagi, Parawitu, Tarian Ja’i, kain tenun, termasuk salah satu upacara adat Sunat Tradisional di Soa yang hampir punah, dan saat ini hanya bisa dijumpai di area kampung Mengeruda.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menetapkan Reba sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. Kriteria yang dinilai adalah budaya ini masih hidup, masih dilakukan oleh masyarakat , punya nilai kearifan dan mempengaruhi kehidupan banyak orang. Selain itu, tim dari Bidang kebudayaan Kabupaten Ngada juga menyiapkan data dukung berupa dokumen, tulisan, visual merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi. Kelengkapan ini selanjutnya dikirim ke propinsi, berlanjut ke Balai Pelestarian Budaya di Bali hingga akhirnya di tahun 2017 ini ditetapkan Reba sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional di Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Surat Keputusan sudah ada dan tinggal menunggu hari penerimaan.

Upaya penyelamatan budaya

Perjuangan untuk menetapkan  Reba sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional, bukan tanpa tujuan. Ada  misi besar yang jika tidak terlaksana,akan juga menjadi ancaman bagi keaslian dan kelestariannya. Misi besar ini adalah  upaya penyelamatan budaya Ngada. Menjadi kekhawatiran bersama bahwa tanpa penetapan dan regulasi, budaya lokal ini akan dianulir dan diklaim oleh orang, daerah atau negara lain. Kita tentu tidak mengharapkan hal ini terjadi. Perjuangan untuk menjaga warisan leluhur berupa Reba ini,masih akan terus berlanjut dengan menaikan tingkatan  dari warisan nasional menuju Unesco sebagai warisan budaya dunia melalui kementerian. Dan ini menjadi catatan yang harus diwujudkan melalui pemerintah dengan dukungan semua pihak terutama pelaku budaya dari masyarakat lokal. Tidak hanya itu, mengembalikan Reba kepada keaslian dan tujuan murninya juga menjadi tanggung jawab bersama. Setidaknya kita tidak membiarkan arus modernisasi  menggerus makna Reba yang semestinya dan warisan penting bagi  generasi Muda untuk dapat mengenal, mengalami dan merayakan Reba sesuai Pata Dela (Petuah Leluhur ) dan Lese Dhe Peda Pawe ( Pesan Kebijaksanaan hidup).

(/dari berbagai sumber)

Categories: Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *