Sejumlah Minuman Beralkohol Fermentasi “Disita”.

Bagikan

Minum beralkohol tradisional khas Ngada adalah minuman yang diproses dengan destilasi tanpa melalui fermentasi dan menggunakan bahan baku nira serta peralatan berupa periuk tanah dan bambu secara tradisional dan turun temurun.

Sampel pengolahan yang didapatkan dan tidak sesuai dengan ketentuan dalam pembuatan minuman beralkohol tradisional.

Penertiban dan penyitaan minuman beralkohol tradisional khas Ngada ini berdasarkan laporan/ informasi dari masyarakat tentang adanya tindakan pembuatan minuman beralkohol tradisional yang tidak sesuai dengan proses secara tradisional.

Selain itu kegiatan razia ini sendiri mempunyai maksud untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap proses pengolahan minuman beralkohol tradisional yang meliputi : peralatan, bahan baku, proses produksi, hasil produksi dan mutu produksi. Sedangkan tujuannya antara lain;1.Menjamin minuman tradisional beralkohol yang diusahakan dengan menggunakan bahan baku dan peralatan secara tradisional. 2.Menjamin peredaran minuman tradisional beralkohol dalam wilayah Kabupaten Ngada yang proses produksinya secara tradisional. 3.Perlindungan terhadap masyarakat dan produsen yang tetap melakukan proses produksi secara tradisional.4.Perlindungan terhadap masyarakat/konsumen dari dampak buruk penggunaan minuman beralkohol tradisional yang tidak diproses sesuai prosedur dan yang ke 5. Menentukan besaran kadar alkohol yang boleh diperjual belikan.

Bahan-bahan yang ditemukan dalam proses fermentasi antara lain : asam, fermipan dan gula pasir. Tampak pada gambar wadah yang digunakan dalam proses pembuatan menggunakan wajan berbahan alumni.

Lokasi penertiban ini dilakukan di Kecamatan Aimere yang meliputi ; Desa Waesae 38 obyek dari 65 obyek dan Desa Legelapu 32 obyek dari 148 obyek. Total obyek yang dilakukan penertiban adalah 70 dari 213 obyek.

Dalam proses penertiban ini hal-hal yang dilakukan Tim adalah; 1.Melakukan/memberikan advokasi kepada para masyarakat/produsen minuman beralkohol tradisional di dua desa tersebut berkaitan dengan bahan baku, peralatan, proses produksi, hasil produksi dan mutu produksi minuman beralkohol tradisional. 2. Mengambil data visual pada lokasi produksi. 3. Mengecek peralatan, bahan baku, proses produksi dan hasil produksi minuman beralkohol tradisional. 4. Melakukan penyitaan terhadap peralatan, bahan baku, hasil fermentasi dan hasil produksi minuman beralkohol tradisional. 5.Mengambil sample bahan dalam proses fermentasi dan hasil produksi untuk dilakukan uji coba.

Sampel minuman beralkohol tidak sesuai prosedur yang di ambil dari lokasi.

Setelah proses penertiban ini dilakukan, ada beberapa rencana tindak lanjut yang dilakukan yaitu, menutup sementra / memberi police line pada tempat produksi yang telah dilakukan penertiban dan penyitaan yang berlokasi di Desa Waesae dan Desa Legelapu, penertiban dan penyitaan lanjutan pada lokasi lainnya, uji laboratorium sampel bahan hasil fermentasi dan hasil produksi, mengeluarkan surat edaran Bupati kepada para Camat, Lurah dan Kepala Desa berkaitan dengan larangan bagi masyarakat / produsen minuman tradisional beralkohol untuk memproduksi dan mengedarkan minuman beralkohol tradisional yang tidak diproses sesuai prosedur, dan membuat PERBUP yang berkaitan dengan minuman beralkohol tradisional khas Ngada.

Hadir dalam kegiatan penertiban tersebut antara lain, Asisten Pemerintahan pada Setda Ngada, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Kasat Pol-PP, Kabag Ekonomi dan Staf, Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan beserta beberapa staf, Kadis Kesehatan, Kadis Perindustrian, Beberapa ASN dari Lingkup Pemda Ngada, anggota Pol-PP dan beberapa anggota kepolisian dari Polres Ngada.

Terimakasih sudah mengunjungi website Kabupaten Ngada