Gunung tipe Strato Vulcano yang berjarak 15 kilometer dari kota Bajawa ini merupakan ikon alam bagi masyarakat Ngada. Inerie, bermakna ‘Ibu yang Jelita’, diambil dari dua frasa lokal yakni Ine (Ibu) dan Rie (Cantik). Sebuah nama yang sangat cocok menggambarkan rupa ancala ini: berbentuk segitiga lancip dengan ujungnya yang runcing, mirip Piramida Mesir. Penggambaran ini semakin dipertegas apabila cahaya mentari pagi menampar Inerie dan menghasilkan siluet segitiga raksasa di antara awan-awan yang bergulung di bawahnya. Inerie menjadi simbol pemberi kehidupan bagi warga yang mendiami kakinya. Maka tak heran banyak sekali kampung adat yang berdiri di sekitarnya seperti Bena, Gurusina, Tololela, Bela, Luba, dan Maghilewa. Setinggi 2.227 mdpl, gunung yang terakhir meletus pada tahun 1970 ini pun menjadi incaran favorit untuk didaki di Flores. Waktu tempuh sekitar 3–5 jam untuk sampai ke puncaknya, dengan Desa Watumeze sebagai titik awal pendakian. Untuk mendapatkan pengalaman mendaki Inerie yang aman, disarankan bersama pemandu lokal.
Kampung Adat Wogo
Mengikuti belokan dekat Kemah Tabor ke arah selatan, dalam waktu sekitar 10 menit, Anda akan tiba di gerbang Kampung Tradisional Wogo yang terletak di Desa Ratogesa. Rumah-rumah tradisional khas Ngada berdiri mengelilingi sebuah pekarangan berbentuk Read more…
2 Komentar
Kelementinus Dhosa · 23 April 2026 pada 11:43 am
Bisa berikan contoh papan informasi terkait wisata pendakian gunung Inerie
Kelementinus Dhosa · 23 April 2026 pada 11:50 am
Peningkatan pelayanan di bidang pariwisata dengan memperhatikan sarana prasarana yang memadai bagi peminat/wisatawan baik lokal maupun mancanegara