LESTARIKAN TRADISI LOKAL FESTIVAL BUDAYA NGADA 2023 SIAP DIGELAR

Melalui dukungan Platform Indonesiana dari Kementrian Pendidikan dan Keudayaan RI, Pemda Ngada oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan menggandeng berbagai Komunitas  local Bajawa akan menggelar Festival Budaya Ngada dengan  ritual Tinju Tradisional  “Sagi “ sebagai ikon utama.

Rapat persiapan perdana telah digelar pada Rabu 2 Maret 2023 dipimpin oleh Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Vinsensius Milo. Dalam pemaparannya Kadis Vinsen menjelaskan dengan lahirnya Undang-Undang nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan merupakan salah satu perwujudan tanggung jawab Negara untuk memajukan kebudayaan nasional,termasuk didalamnya kebudayaan daerah.

Dengan dukungan Platform Indonesiana melalui festival yang akan dilaksanakan di Ngada merupakan bagian dari solusi persoalan yang telah teridentifikasi. Ekosistem kebudayaan yang menjadi focus point Indonesiana akan menghadirkan gotong royong dan pelaksanaan tanggung jawab bersama antar pihak dalam memajukan kebudayaan, dimana pemerintah berperan sebagai fasilitator, komunitas sebagai pelaksana yang akan ditingkatkan kapasitasnya dan pengorganisasian di bidang kebudayaan.

Dengan demikian dalam Lima tahun kedepan, Kabupaten Ngada memiliki strategi khusus dibidang kebudayaan dan memiliki indicator keberhasilan yang bisa diukur. Sebagai contoh adalah inisiatif dalam bentuk festival, perlu mempunyai target yang hendak dicapai dalam Lima tahun kedepan, misalnya jumlah inventarisasi bertambah, jumlah OPK yang bisa masuk dalam muatan lokal bertambah, jumlah sanggar yang aktif bertambah, OPK yang hampir “punah” mulai bisa hidup kembali, dan lain- lain. Dengan pengelolaan kebudayaan yang strategis oleh Pemda Ngada, maka kebudayaan Ngada selalu mengalami dinamika dalam masyarakat pendukungnya, dan menjadi rujukan penting bagi masyarakat di Indonesia maupun masyarakat global. Pada titik inilah, ranah kebudayaan tidak hanya bisa mendatangkan kesejahteraan masyarakatnya, tetapi juga membangun mentalitas warga yang bermartabat.

Kegiatan Festival Budaya Ngada ini rencananya akan dilaksanakan pada Bulan Mei mendatang dengan Tim kerja menggandeng berbagai komunitas lokal Bajawa diantaranya Komunitas Videografer-Bajawa Independent, Komunitas Pengetahuan STKIP Citra Bhakti, Komunitas Ekologi yayasan Puge Figo, Komunitas adat desa Libunio dan Desa Bowali, Komunitas Seni dan Musik, Komunitas Literasi serta Instansi teknis Dinas Kominfo Ngada dan tentunya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai penyelenggara utama. Kehadiran dari Komuntas-komunitas ini diharapkan dapat berkontribusi secara teknis sesuai kapasitas masing-masing agar nanti Festival ini tidak hanya menjadi milik Pemerintah semata namun dikerjakan dan berdampak ke masyarakat itu sendiri. Dan kerja Kebudayaan ini dilakukan dengan tetap merujuk kepada pokok-pokok Kebudayaan masyarakat Ngada, berjenjang dari daerah dan menyebar ke Desa dan Komunitas adat di seluruh Ngada, hingga semua Budaya Ngada akan kembali diangkat dan dilestarikan.

Sementara itu Pamong Budaya Paschalia Asri menyebutkan dalam Festival Budaya Ngada kali ini akan digelar sekitar 17 item kegiatan kebudayaan namun Ikon tunggal yang akan disajikan pada acara puncak adalah Tinju Tradisonal “Sagi “ di Desa Libunio. Menurut rencana ada 4 agenda besar yang mewadahi 17 item kegiatan yang akan digelar pada Festival Budaya Ngada 2023 yakni PENYELENGGARAAN RITUAL ADAT ( Ritual Sagi, Ritual Ka Fange di Beiwali, Musyawarah Adat), PENYELENGGARAAN WORKSHOP/PENGELOLAAN PENGETAHUAN ( Bedah Buku, Edukasi Ekologi, Workshop Musik dan Tari, Workshop Ketahanan Pangan,Workshop Dokumenter,Workshop Tata Kelola Kebudayaan,Dokumen Kebudayaan), PUBLIKASI ( Lomba Pameran Karya Cipta Budaya,Pameran Foto,Pembuatan dan Pemutaran Dokumenter) dan PAGELARAN SENI (Lomba Karnaval Budaya,Lomba Musik rakyat,Lomba Fashion Etnik antar desa,Pementasan,Lomba Cerita Rakyat Daerah Berbahasa Ibu).

Festival Budaya Ngada 2023 yang pelaksanaanya terpusat di Libunio – Soa dan Desa Beiwali ini bertujuan untuk mengembalikan rasa cinta masyarakat, terutama generasi muda, terhadap budayanya sendiri sebagai pembentuk identitas dan jati diri; Mengembangkan dan mewariskan nilai-nilai luhur bangsa dimana kearifan lokal yang memiliki kekayaan nilai yang bersifat universal;  Memperkaya kerja bersama-sama dalam keberagaman budaya sehingga tidak hanya dilestarikan tapi dikembangkan menjadi ekonomi kreatif berbasis budaya dan bernilai ekonomis di dalam komunitas – komunitas sehingga tercipta pola saling melengkapi dan menguatkan; Merevitalisasi nilai nilai kearifan lokal yang mulai punah dengan membangun kerjasama bersama pemilik budaya itu sendiri, Inventarisasi sumberdaya alam dan budaya yang dimiliki oleh komunitas budaya membuat dokumen dokumen budaya pada setiap festival, Pengenalan kebudayaan Indonesia, dalam hal ini kebudayaan khas masyarakat kabupaten kepada komunitas budaya lainnya yang ada di Indonesia, Mendukung promosi kekayaan budaya Ngada sebagai atraksi budaya dalam mendukung pembangunan kebudayaan dan pariwisata secara nasional.

Di akhir diskusi persiapan, Pamong Budaya Paschalia Asri menegaskan Festival Budaya Ngada 2023 ini sendiri ditilik sebagai kegiatan untuk memperkenalkan nilai nilai budaya dan kearifan lokal yang mulai pudar sejalan dengan begitu banyak tawaran dunia modern. Karena itu membangkitkan semangat untuk kembali menghidupi berbagai nilai budaya dalam festival Budaya 2023 .Untuk mencapai hal hal besar, tidak hanya bertindak tetapi juga bermimpi, tidak hanya merencanakan tetapi juga percaya, bahwa festival budaya Ngada menyembul banyak harapan dan motivasi bagi masyarakat Ngada, karena sejarah mencatat bahwa ini menjadi satu satunya festival perdana yang akbar dan mengundang banyak perhatian. Dengan demikian berbicara tentang festival Budaya Ngada maka masyarakat akan terpanggil untuk mengelola, menjaga dan melestarikan semua potensi budaya di bumi Ngada, yang terdiri dari etnis Ngada, etnis Soa, etnis Riung. Objek Pemajuan yang di pilih pada Festival Budaya 2023 khusus pada ritual yang ada pada tiga etnis belum di dokumentasi baik berupa buku atau tulisan maupun dokumentasi visual lainnya, serta belum tersentuh publikasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *