Berlangsung di aula Setda Ngada, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu membuka kegiatan Rapat Koordinasi Forum Triwulan II terkait Forum Konservasi Mbou (Komodo), Kamis 30 April 2026. Kegiatan ini dihadiri Para Asisten, Kepala BBKSDA NTT Wilayah II Ruteng, Ketua Forum Multi Stakeholder Peduli Mbou Riung,Camat Riung dan seluruh anggota Forum.

Program Manager in Flores,Sutomo dalam sambutan awalnya menyampaikan bahwa bersama masyarakat telah lakukan sejumlah upaya konservasi. Tiga pendekatan yang dilakukan yakni pendekatan Habitat,Pendekatan Spesies dan Pendekatan langsung masyarakat. Selain itu pendekatan Habitat landscape dan Sea scape juga diterapkan dimana Ngada memiliki empat kawasan konservasi, satu di Bajawa dan tiga kawasan lainnya di Riung. Riung juga memiliki satu hutan Adat di Lorong Padang sebagai area konservasi dan ditambah hutan lindung Sawer Sange yang masuk dalam daftar areal Hutan Lindung. Menurut Sutomo, selain spesies unggulan yakni Mbou, spesies lain dalam konsentrasi konservasi ini juga meliputi Elang Flores, Kaka tua, Beo, Kera ekor panjang. Dalam upaya konservasi ini, tentu menemui berbagai kendala dan persoalan. Persoalan kita adalah konflik kepentingan konservasi bertentangan dengan kepentingan masyarakat. Namun konflik ini perlu dikelola secara secara baik

Sementara itu, Wakil Bupati Ngada Berny Dhey menjelaskan Kabupaten Ngada merupakan salah satu wilayah di kawasan pulau flores yang menyimpan nilai konservasi global khususnya terhadap  keberadaan Komodo Dragon sebagai spesies flagship, spesies endemik lain, terumbu karang, mangrove dan sumber daya laut sebagai  potensi ekologis yang patut mendapat perhatian serius oleh seluruh pemangku kepentingan baik oleh pemerintah, masyarakat beserta unsur-unsur terkait lainnya.  

Secara faktual kawasan potensi ekologis ini  selain bernilai konservasi sekaligus menjadi ruang hidup ribuan masyarakat yang menggantungkan diri pada perikanan, pariwisata, dan pertanian. Tekanan ekologis (degradasi habitat, penangkapan ikan berlebih/destruktif, limbah pariwisata, perubahan iklim) ditambah dengan kelemahan tata kelola lintas sektor dan keterbatasan alternatif ekonomi, dapat memberikan dampak buruk terhadap keberadaan ekosistem yang ada di kawasan tersebut serta menyulitkan upaya konservasi yang berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Ngada sangat menyadari akan kemanfaatan potensi ekologis terutama Komodo Dragon sebagai spesies flagship yang dalam budaya lokal disebut Mbou. Keberadaannya telah memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat melalui sektor pariwisata. Namun di sisi lain pemanfaatan terhadap potensi ekologi bagi kepentingan kultural – sosial – ekonomi, secara bertahap dapat memberikan dampak buruk bagi kelangsungan ekosistem potensi ekologis itu sendiri.

Pemerintah Kabupaten Ngada menyadari sepenuhnya bahwa konservesi berkelanjutan terhadap berbagai potensi ekologis adalah sebuah keharusan, sehingga  melalui berbagai forum terus  memberikan atensi bagi keberlangsungan ekologis dikarenakan keunikan hayati berupa spesies flagship (Mbou) beserta spesies endemik lain merupakan aset berharga bagi Kabupaten Ngada khususnya dan Flores umumnya.

Kehadiran pemerintah pada kegiatan hari ini menunjukan komitmen kuat bagi terselenggarannya konservasi berkelanjutan terhadap aset ekologis berharga yang ada diwilayah Kabupaten Ngada pasca dilakukannya pembentukan Forum Konservasi Mbou (Komodo) dan Spesies Penting Lainnya di Dalam dan di Luar Kawasan Hutan di Kabupaten Ngada sesuai Keputusan Bupati Ngada Nomor 359/KEP/HK/2025 tanggal 10 Juli 2025.

Kategori: Berita

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page

error: Content is protected !!