Komunitas Kajian Budaya Ngada (KKBN) “Loka Tua Mata Api” resmi diluncurkan di Kemah Tabor Mataloko, Kabupaten Ngada, Minggu (9/8/2026). Kehadiran komunitas ini menjadi ruang bersama untuk menggali, mengkaji, menemukan, dan mentransformasikan nilai-nilai budaya Ngada di tengah arus kemajuan peradaban dunia.
Launching KKBN Loka Tua Mata Api merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua hari, sejak 8 hingga 9 Agustus 2026. Pada hari pertama, kegiatan diisi dengan Napak Tilas Pater Paul Arndt, SVD, sebagai bagian dari upaya mengenang dan menelusuri jejak pemikiran serta karya besar dalam dokumentasi dan kajian kebudayaan Ngada.

Sementara pada Minggu, 9 Agustus 2026, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran resmi Komunitas Kajian Budaya Ngada Loka Tua Mata Api yang didahului dengan perayaan Ekaristi.
Ketua KKBN Loka Tua Mata Api, Pater Felix Baghi, dalam sambutannya menjelaskan bahwa komunitas ini hadir dengan sebuah tujuan besar, yakni “menggali untuk menemukan dan menemukan untuk transformasi.”
Menurutnya, budaya tidak cukup hanya diwariskan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dikaji dan dimaknai agar mampu menjawab tantangan kehidupan masyarakat Ngada di tengah perkembangan zaman.
Ia juga mengungkapkan perjalanan komunitas tersebut yang memiliki sejarah panjang. Dari gagasan Leti, Leto, kemudian berkembang dan akhirnya sampai pada gagasan Latu yang menjadi bagian dari perjalanan lahirnya komunitas kajian budaya ini.

Dalam sambutan Bupati Ngada yang disampaikan oleh Asisten II Setda Ngada, Nikolaus Noy Wuli, ditegaskan bahwa salah satu gagasan penting yang lahir dari komunitas ini adalah upaya untuk menemukan inti penting dari kebudayaan Ngada.
“Di tengah kemajuan dunia, tantangan terbesar yang kita hadapi adalah kehilangan makna dari budaya itu sendiri,” demikian pesan Bupati Ngada yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Menurutnya, masyarakat Ngada boleh memiliki rumah adat, berbagai simbol budaya, tradisi dan warisan leluhur. Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah generasi muda benar-benar memahami makna dan nilai yang terkandung di balik semua itu.
Karena itu, kehadiran Loka Tua Mata Api diharapkan benar-benar menjadi jawaban atas kekhawatiran tersebut. Komunitas ini diharapkan tidak berhenti pada upaya mendokumentasikan budaya, tetapi mampu menghadirkan budaya sebagai sesuatu yang hidup, dipahami, dan diwariskan secara bermakna kepada generasi berikutnya.
Bupati juga berharap komunitas ini dapat memperluas ruang geraknya, tidak hanya berbicara tentang budaya di tengah orang-orang yang memang telah memahami budaya, tetapi juga hadir di sekolah-sekolah untuk mendampingi generasi muda mengenal, memahami, dan mencintai kebudayaan Ngada.

“Budaya harus diperkenalkan kepada generasi muda sejak dini, bukan hanya sebagai simbol atau tradisi, tetapi sebagai nilai yang membentuk identitas dan karakter,” menjadi salah satu pesan penting dalam sambutan tersebut.
Lebih jauh, keberadaan KKBN Loka Tua Mata Api diharapkan tidak hanya melahirkan tulisan, kajian, maupun dokumentasi kebudayaan. Hasil kajian diharapkan dapat diterjemahkan menjadi gagasan dan gerakan nyata yang memberikan kontribusi bagi pembangunan dan kemajuan Kabupaten Ngada.
Launching KKBN Loka Tua Mata Api menjadi momentum penting untuk mempertemukan pengetahuan, tradisi, generasi muda, dan masa depan kebudayaan Ngada.
Sebab, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan apa yang diwariskan leluhur, tetapi juga memastikan agar generasi hari ini mampu menemukan maknanya dan generasi yang akan datang tetap memiliki alasan untuk mencintainya.
Loka Tua Mata Api: menggali untuk menemukan, menemukan untuk mentransformasi.

0 Komentar